4 comments on “ADA APA DENGAN HARI VALENTINE???

  1. Pingback: SEJARAH VALENTINE’S DAY « Tulisan Kehidupan

  2. Pingback: Hukum Merayakan Hari Valentine « Tulisan Kehidupan

    • Puisi Getir dari Titik Nadir Daoed Joesoef, ALUMNUS UNIVERSITÉ PLURIDISCIPLINAIRES PANTHÉON-SORBONNE Sumber : KOMPAS, 31 Desember 2011 Ketika dilantik menjadi
      pembesar, sang reformis
      membuat ikrar: ”Di negeri
      ini kami berniat
      mewujudkan keadilan,
      kemakmuran, dan kesejahteraan untuk
      semua.”
      Karena ikrar sepanjang
      ini di mana-mana
      diucapkan, dia lama-
      kelamaan kelelahan. Ada usul dihapus saja kata
      ”di negeri ini” berhubung
      dia toh bukan pembesar
      di tempat lain, melainkan
      di sini. Usul ini dia setujui. Ada pendapat supaya
      kata ”kami” tidak
      diucapkan lagi, bisa-bisa
      dianggap menyombongkan
      diri. Pendapat ini pun dia
      akui. Ada pula orang yang mengingatkan bahwa kata
      ”berniat” sudah tak lagi
      tepat. Ini berlaku sebelum
      dia diangkat. Jadi,
      sekarang dia sudah
      beraksi, mewujudkan apa- apa yang dikehendaki. Dia
      rasa memang begitulah
      seharusnya, maka kata
      ”berniat” dicoreng saja. Mengingat roda
      pemerintahan berjalan
      lamban, kata
      ”mewujudkan”
      mengundang kegelisahan.
      Rakyat menjadi semakin tak sabar, cepat marah,
      dan bertindak kasar.
      Untuk mengelakkan semua
      ini, kata ”mewujudkan”
      tak perlu diulang lagi. Dia
      sependapat dengan ide cemerlang ini. Setelah berjalan
      beberapa waktu, ada
      bisikan bahwa kata-kata
      ”keadilan, kemakmuran,
      dan kesejahteraan”
      merupakan pleonasme yang sarat dengan
      harapan yang bukan-
      bukan. Kalau semua itu
      suatu keniscayaan, tidak
      perlu kiranya digembar-
      gemborkan. Takut disebut demagog belaka, itu pun
      tidak lagi dia ucapkan. Jadi, dari rangkaian ikrar
      begitu panjang, tinggal
      kata ”untuk semua”. Apa
      yang perlu ia ulang-
      ulang? Bukankah kedua
      kata tersebut mengandung tanda tanya:
      semua yang mana? Semua
      dari kelompok siapa?
      Siapa dari parpol apa?
      Dari daerah pemilihan
      mana? Kan, tidak semua yang dulu memilih dia?
      Maka agar rakyat tidak
      curiga, pemilih tidak
      kecewa dan tidak terus
      teringat menagih janji,
      kata ”untuk semua” tak usah dibicarakan lagi. Tanpa Ikrar Sekarang di mana pun dia
      berada, ikrar yang dulu
      dia diamkan. Lagi pula
      untuk apa direkayasa?
      Rata-rata orang Indonesia
      adalah makhluk pelupa. Kini dia cukup mengumbar
      senyum ceria, menyebar
      santun dan pesona.
      Protokol kenegaraan toh
      membuat dia bagai raja
      yang tak tercela. Jadi ke titik nadir dia
      mundur kembali, untuk
      nyepi menenteramkan diri.
      Dia merasa berhak
      melakukan itu karena toh
      sudah berupaya sepenuh hati. Rakyat yang berjejal di
      titik nadir sejak dahulu,
      sudah terbiasa menunggu.
      Maka sungguh beruntung
      jika pembesar bersedia
      turun gunung. Wis piro- piro, jika sang pembesar
      bersedia datang. Pawang
      hujan diminta menolak
      hujan, sedangkan para
      pelajar, dengan bendera
      di tangan, dikerahkan berjejer di sepanjang
      jalan. Kegiatan lain kecuali
      penyambutan segera
      dilarang. Spanduk pun
      sudah siap terpasang:
      selamat datang pembesar
      sayang! Ini bukan spanduk usang yang baru
      dikeluarkan dari gudang.
      Ini spanduk baru dibuat
      dengan dukungan proyek
      setempat. Walaupun
      kemakmuran dan kesejahteraan masih jauh
      panggang dari api, wajah
      rakyat diminta tetap
      berseri. Sampai kapan
      hidup bersandiwara? Senandung puitis tentang
      kegagalan reformasi perlu
      dicermati secara analitis
      karena secara alami ia
      merupakan ouverture dari
      nada ganas bergejolak keras. Aneka kejadian
      dalam kehidupan
      bermasyarakat, berbangsa,
      dan bernegara bukan lagi
      indikasi reformasi bakal
      gagal, melainkan sudah merupakan kegagalan itu. Analisis melihat kegagalan
      reformasi terkandung
      dalam kekeliruan awalnya.
      Kekeliruan, tepatnya dosa
      awal ini, berupa pretensi
      sang reformis berkeadaan lain daripada diri yang
      sebenarnya. Adalah suatu
      privilese untuk berusaha
      menjadi apa saja yang
      kita inginkan, tetapi
      adalah keliru berpretensi menjadi apa yang
      sebenarnya bukan
      kesejatian kita dan
      menipu diri sendiri dengan
      membiasakan hidup
      dengan asas palsu mengenai diri kita. Jika perilaku biasa diri
      seseorang, dari suatu
      lembaga, adalah palsu,
      langkah selanjutnya
      adalah demoralisasi. Lalu
      menyusul kemunduran sebab tidak mungkin
      seseorang membeberkan
      kepalsuan dirinya tanpa
      kehilangan self-respect. Asas Palsu Berarti suatu usaha atau
      lembaga atau usaha yang
      dilembagakan, yang
      berlagak memberi atau
      menuntut apa yang di
      luar kemampuan, adalah palsu dan demoralized.
      Walaupun begitu, asas
      kelancungan ini masih
      terus ditemukan di
      sepanjang perjalanan
      reformasi, dalam keseluruhan rencana dan
      struktur lembaganya. Ada politikus yang tetap
      saja berpretensi reformis,
      padahal sebenarnya
      bukan. Mentalnya murni
      Orde Baru, bahkan ada
      karakter Orde Lama. Orang-orang seperti ini
      membuat kebijakan ala
      prareformasi yang mereka
      cela habis-habisan. Mereka bukan tidak sadar
      karena yang mereka
      maksudkan dengan
      reformasi adalah
      sebenarnya ”gantian
      menjarah” kekayaan Ibu Pertiwi. Maka, di mana-
      mana terjadi korupsi.
      Merebak secara sistematik
      dan terencana. Tidak
      hanya di kalangan
      pejabat teknis- administratif, tetapi juga
      di lingkungan pembuat
      keputusan publik selaku
      wakil rakyat. Jika ada
      yang tertangkap, parpol
      induknya bukan memecat, melainkan membela mati-
      matian. Maka terjadilah hal yang
      krusial: parlemen yang
      bermartabat ditunggangi
      anggota-anggota yang
      tidak bermartabat. Namun,
      rakyat tetap dituntut membahasakan mereka
      sebagai ”Yang terhormat
      Saudara…”. Mana disiplin
      parpol yang berpotensi
      mendukung pelaksanaan
      hasrat kedemokrasian reformasi? Jadi, kesimpulan analisis
      yang tak terelakkan
      adalah bahwa para
      reformis supaya berhenti
      berpretensi menjadi orang
      yang bukan dirinya. Cintailah kebenaran. Be
      honest to and about
      yourself! Inilah kiranya mengapa
      Leonardo da Vinci berkata:
      ”Chi non puo quel che
      voul, quel che puo
      voglia”—Siapa yang tak
      sanggup meraih apa yang dia inginkan, sebaiknya
      menginginkan apa yang
      dia sanggupi. Maxim
      Leonardo inilah yang
      seharusnya memandu
      reformasi sejak awal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s